![]() |
| Gambar Data-Driven dalam Bisnis |
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah data-driven decision making menjadi mantra wajib dalam bisnis digital. Hampir semua perusahaan mengklaim keputusannya berbasis data. Dashboard dibuat, metrik ditumpuk, dan laporan disajikan dengan visual yang rapi. Ironisnya, semakin banyak data yang dimiliki, semakin sering keputusan bisnis terasa salah arah.
Masalahnya bukan pada data, melainkan pada cara data dipahami dan digunakan.
Ketika Data Menjadi Ilusi Kepastian
Data sering diperlakukan sebagai sumber kebenaran absolut. Angka dianggap objektif, netral, dan bebas bias. Padahal, data selalu merupakan hasil dari proses seleksi, asumsi, dan konteks tertentu. Metrik yang dipilih mencerminkan apa yang ingin dilihat perusahaan, bukan selalu apa yang paling penting.
Dalam praktiknya, banyak organisasi terjebak pada vanity metrics. Angka terlihat impresif, tetapi minim implikasi strategis. Pertumbuhan pengguna, engagement rate, atau traffic meningkat, namun tidak berbanding lurus dengan nilai bisnis yang berkelanjutan.
Di titik ini, data bukan lagi alat bantu pengambilan keputusan, melainkan pembenaran atas keputusan yang sudah diambil sebelumnya.
Pergeseran Tren: Dari Data-Driven ke Judgment-Driven
Tren yang mulai terlihat secara global adalah pergeseran dari sekadar data-driven menuju judgment-driven with data support. Artinya, data tidak lagi berdiri sendiri, tetapi dikombinasikan dengan intuisi bisnis, pemahaman pasar, dan pengalaman kontekstual.
Perusahaan teknologi besar mulai menyadari bahwa tidak semua keputusan strategis bisa dioptimalkan melalui eksperimen A/B atau analisis statistik. Beberapa keputusan bersifat visioner dan membutuhkan keberanian mengambil risiko, bahkan ketika data belum sepenuhnya mendukung.
Data tetap penting, tetapi perannya bergeser dari “penentu” menjadi “penyaring” dan “penguji” asumsi.
Dampak bagi Strategi Bisnis Digital
Bagi bisnis digital, tren ini menuntut kedewasaan dalam berpikir strategis. Mengandalkan data tanpa pemahaman konteks dapat menghasilkan optimasi jangka pendek yang merusak posisi jangka panjang.
Keunggulan kompetitif tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki data terbanyak, tetapi siapa yang mampu mengajukan pertanyaan paling tepat terhadap data tersebut. Di sinilah peran analisis kritis menjadi krusial.
Bisnis yang sukses ke depan bukan yang paling data-driven secara teknis, melainkan yang paling mampu menggabungkan data dengan penilaian manusia secara disiplin dan jujur.
Penutup
Era data-driven bukan sedang berakhir, tetapi sedang dikoreksi. Data tetap menjadi aset penting, namun kehilangan maknanya ketika diperlakukan sebagai pengganti berpikir. Tren bisnis digital ke depan akan berpihak pada organisasi yang mampu menyeimbangkan data, konteks, dan penilaian strategis.
Keputusan terbaik tidak selalu yang paling terukur, tetapi yang paling masuk akal dalam realitas pasar yang kompleks.
